Menyempurnakan kebaikan, sederhananya memilih dan melaksanakan aktifitas kebaikan yang lebih baik dari pada yang kita lakukan sekarang. Contoh nih, jika kita punya kebiasaan berinfak setiap hari Jum’at. Saat ada kotak berjalan sendiri pas shalat Jum’at, kita mengisinya dengan Rp. 5000,-. Maka infak kita dalam 1 bulan cuma Rp. 20.000,-. Beh... dikit amat sob? Ga pantes dong cowok ganteng kaya kita, yang dikenal ramah, baik hati dan suka menabung cuma segitu infaknya sebulan. Harus ditambah sob. Okelah, polanya di rubah. Tidak setiap hari Jum’at sja kita berinfak tetapi setiap hari. Dengan nominal yang lebih kecil, Rp. 1.000,- per hari. Biasanya kita kasihkan kepada mereka yang berada di perempatan jalan. Lumayan, amal harian ini membuat jumlah infak per bulan lebih baik Rp. 30.000,-. Ternyata infak kita sering digunakan untuk hal hal yang tidak kita sukai. Berdasarkan pengamatan, ada yang digunakan untuk beli rokok bahkan minuman keras. Weleh, pelanggaran ni bocah.
Akhirnya pola infaknya kita rubah lagi. Ide muncul tidak bisa spontan, ide muncul setelah kita berpikir. Nah... dapat ide beli celengan, bukan bentuk babi tapi bentuk vas bunga. Setiap hari dimasukin uang dengan nominal Rp. 1.000,-. Jumlahnya dalam 1 bulan sama sih dengan infak harian tapi pola infaknya yang berbeda. Di akhir bulan kita menghubungi agen lembaga amal zakat yang kita percayai. Selama ini kita menggunakan Lembaga Manajemen infak (LMI), Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU), Kotak Amal Indonesia (KAI), dan Rumah Zakat Indonesia (RZI). Infak kita akan berkumpul dengan infak donatur yang lain. Rp. 30.000,- berkumpul dengan Rp. 300.000,-, Rp. 3.000.000,-, Rp. 30.000.000,-, bahkan lebih dari Rp. 300.000.000,-. Menjadi lebih besar bukan? Ajaibnya tidak berhenti di sini, tanpa kita sadari Rp. 30.000,- kita bisa menjadi sekolah, rumah sakit, panti asuhan, perpustakaan, masjid, Al qur’an, dan yang lainnya. Pokoknya manfaatnya lebih powerfull.
Hanya itu saja? Oh tidak, masih berlanjut pemirsa. Bisa jadi saat kita tidur, Bank Cabang Akherat (BCA) kita tetap terisi oleh pahala. Kok bisa? Ada orang sholeh yang sedang sholat tahajud di masjid, nah... dia sholat di atas sajadah yang merupakan sumbangan salah satu lembaga amil zakat dan belinya dari uang kita. Jika kita termasuk orang yang sehat, salah satu cirinya tiap pagi kita rajin ‘setor’ ke belakang. Dalam kondisi demikianpun kita bisa tetap bertambah pahalanya. Kok bisa lagi? Ada orang sholeh yang membaca Al Qur’an di salah satu dusun terpencil, dimana Al Qur’an itu adalah wakaf dari salah satu lembaga amil zakat yang sumber dananya dari infak kita. Ini namanya multi player effect, satu aktifitas kebaikan yang mendapatkan manfaat banyak pihak. Legend ndak tuh sob?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar