Selasa, 10 April 2012

Nasehat dengan Solusi

Saya punya teman, sebut saja namanya Tono. Suatu hari, dia memberi pengumuman di depan kelas. “Guys, mulai hari ini, lo semua ga usah belajar. Jangan kuatir dengan ujian, gue telah menemukan tips dan trik terbaru untuk menyontek yang tidak meninggalkan barang bukti apapun. Mantap kan? Bahkan dijamin 100% jawabannya benar semua. You can call me for the answer” .
Seketika, kelas semakin gaduh. Kebahagiaan yang meledak. Selama ini ujian memang menjadi momok mengerikan, bagi beberapa pelajar yang malas belajar. Siapa sangka, mereka yang sudah rajin pun tetap akan tergoda dengan kemudahan yang ditawarkan, hasil bagus yang instan, tidak perlu kerja keras.
Mereka yang benar-benar happy bahkan excited meluapkan dengan memberi dukungan kepada Tono agar semakin kreatif. Mereka mengirim sms ke 7373 dengan format : Reg_Tono. Jawaban yang akan di terima langsung dari triknya Tono. Hehehe.
Harapan itu masih ada. Tidak semua penghuni kelas setuju dengan yang dilakukan si Tono. Sebut saja tiga orang, Toni, Tini, dan Tino. Saya tegaskan, mereka bukan saudara, nama yang dibuat untuk memudahkan skenario cerita saja.
Toni anak yang sholeh. Alim beud pokoknya. Rajin ke masjid dan ikut kajian. Secara fisik tampak kealimannya dari dahinya yang menghitam, bukan karena oli pemirsa, hitam karena bekas sujud yang lama. Nah... tampilah dia, sebagai orang yang pertama yang mengingatkan si Tono. Kita lihat liputannya!
Toni : Hai sob, kita kan sahabat ni, boleh dong aku share something ke lo
Tono : Yoi sob, apa ni yang bisa gue bantu?
Toni : Gini sob, kita kan saudara ni?
Tono : Saudara? Dari Hongkong?
Toni : Lho kita saudara sob, kita dipersatukan oleh Keislaman kita. Kalimat tauhid. Sesama muslim kan saudara.
Tono : Hah? Yowes lah... terus?
Toni : Eh sob, sebagai saudara gue mau nasehatin lo boleh kan. Jangan nyontek po’o. Nyontek itu dosa, bisa masuk neraka. Bisa berabe kan?
Tono : Maksud lo? Eh sob. Lo jangan sok alim deh, urus aja urusin lo sendiri.
Fin bahasa Koreanya untuk proses dakwah Toni kepada Tono. Bisa di bilang belum berhasil lah ya. Tapi saya yakin, tokoh Toni ini dibuat untuk tidak gampang menyerah.  Lagi D’Masiv telah menjadi soundtrack dalam darahnya. Dia akan kembali, pasti.
Terus, ada tokoh yang kedua. Tini namanya. Cieh... ni cewek juga sholihah banget. Hijabnya benar sesuai syariat, dia juga selalu nundukin pandangan dalam berinteraksi (tuntunannya memang begitu, bukan karena ada koin di bawah). Nah... si Tini belajar dari kisah Toni. Dia berpikir belum mampu merubah  Tono dengan tangan dan mulutnya. Dia hanya percaya bahwa yang dilakukan Tono salah, dan dia berdoa semoga segera berubah. Agar dia tidak terjebak dengan dosa jariyah. Weleh... ada tho lawannya amal jariyah?
Apakah doa Tini dikabulkan oleh Alloh SWT? Apakah Tono juga akan berubah meninggalkan aktivitas “dosa jariyah” yang telah dia sistemkan? Apakah Tono juga akan taubat dan dia menggunakan kecerdikannya untuk kebaikan dunia dan akheratnya? Tetap stay tune pemirsa, baca terus kisahnya.
Sahabat Toni dan Tini yang bernama Tino juga ingin berpartisipasi mengarahkan Tono ke arah yang lebih baik. Dia mengundang Tono untuk hadir di rumahnya bis Isya, katanya sih Ibunya masak makanan yang disukai Tono, lontong tahu. Tono menerima undangan Tino dengan senang hati.
“Ting Tong!” , ini suara bel rumah Tino. Kelihatan sekali rumah Tino jadul, rumah modern tu suara belnya “Tet... Teeet...” bahkan ada yang suara MP3. Hehehe. Tono disambut Ibunya Tino, lalu menjelaskan lontong tahunya masih progres, belum masak. Nah... tono diharapkan sabar menunggu sama Tino di meja utama. Segeralah Tono  beranjak masuk ke dalam rumah.
“Ngapain lo sob?”, tanya Tono ke Tino saat melihat sobatnya sibuk dengan banyak sekali kertas di hadapannya.
“Oe...lagi belajar sob, besok kan ujian. Ayo sini, bantu gue mengerjakan soal”, Tino tampak bahagia sekali melihat sahabatnya hadir. Dia memberikan satu lembar kertas yang berisi soal-soal yang telah dia siapkan.
“Ngapain juga belajar sob. Lo ga dengar apa pengumumanku di depan kelas tadi. You can call me, tomorrow!. Udah kita main saja sekarang, gimana?”, Tono membalas sambil duduk disamping Tino.
“Besok ya besok sob, sekarang ya sekarang. Udah bantulah aku untuk mengerjakan soal-soal ini”, pinta Tino memelas.
“Hahahaha. Mengerjakan soal? Ga salah lo minta tolong ma gue. Selama ini kalau ujian saja hue menyontek. :p”, balas Tono sadar diri.
“Udah sob, dikerjakan saja dulu. Entar kita kerjakan bareng-bareng kalau ada yang ga bisa dikerjakan. Uokeh?”, Tino tetap memaksa Tono untuk mengerjakan soal-soal yang telah disiapkan dengan cara yang halus.
Akhirnya Tono mulai mengerjakan soal tersebut. Membaca soalnya saja dia bingung. Ini apa maksudnya? Akhirnya dari pada buang-buang waktu dia segera bertanya kepada Tino tentang maksud dari soal tersebut dan cara menyelesaikannya. Tino tersenyum, lalu memberikan panduan kepada Tono dihalaman berapa saja dia bisa terbantu.
Menit terus berjalan, tanpa di sadari oleh Tono, dia bisa menyelesaikan 1001 soal yang telah disediakan oleh Tino dalam waktu 43 menit. Wow... lebay banget, 10 soal ajalah. Kemudian ada sesuatu yang baru disadari oleh Tino.
“Bentar... bentar sob, gue kok bisa ya menyelesaikan soal soal ini? Padahal selama ini gue kesulitan lho. Ada apa ya?”, tanya Tono keheranan setelah melihat kemampuan barunya.
“Masak sih? Oh... mungkin karena gue memandu lo untuk mengerjakan soal soal itu. Makasih dong ma gue! Hehehe”, Tino tersenyum bangga.
“Mungkin juga ya”, Tono tidak sadar bahwa Tino telah menyiapkan skenario untuk melanjutkan pengaruhnya.
“Eh sob, gue bisa bantu lo untuk selalu bisa mengerjakan soal-soal seperti ini, bahkan yang lebih sulit. Tapi ada syaratnya. Gimana?”, Tino telah menyiapkan perangkapnya.
“Hah? Serius lo? Gue sih setuju saja, capek gue kalo harus nyiapin contekan terus. Hehehe. Apa syaratnya?”, Tono seakan akan menemukan gairah baru dalam hidupnya, dia akan menjadi lebih baik.
“Lah... emang itu syaratnya. Mulai malam ini, lo ga boleh menyontek lagi dan memberikan hasil contekan kepada teman teman sekelas. Gimana?”, Tino menjelaskan syaratnya dengan hati hati agar tidak menyinggung perasaan Tono.
“Ehm...”, Tono berpikir keras atas syarat yang diberikan oleh si Tino. Akhirnya dia memutuskan menyetujui syarat yang ditawarkan oleh si Tino. Sejak saat itu Tono tidak pernah menyontek lagi.
Fin yang sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar