START.
Ini cerita tentang Bunda berputra 2. Semuanya laki-laki. Usianya masih balita, 3,5 tahun dan 4 bulan. Berawal dari si Kakak yang mulai rewel sampai Bunda tersebut kehilangan kesabaran. Keluarlah ancaman yang menjadi senjata pamungkasnya selama ini. “Kakak, kalo tidak bisa diam. Maka kelamin Kakak akan Bunda potong lho dengan gunting ini!”. Ajaib. Detik itu juga si kakak diam dengan wajah penuh ketakutan. Sang Bunda pun bernafas lega. Sedikit terobati capek fisik dan perasaannya hari itu.
Sorenya, si Adek sedang tidur, pulas. Nenen banyak banget, pasti lama tidurnya. Bunda berpikir, tidak apa apa ditinggal sebentar untuk beli bumbu masak ke toko sebelah. Toh... ada Kakak yang bisa menemaninya. Bergegas Bunda pergi belanja, hanya 4 menit 37 detik, hampir 5 menit. Sesampai di depan pintu rumah Bunda kaget, si Adek menangis dengan kerasnya. Tidak pernah tangisan sekeras ini dia keluarkan setelah hadir di dunia ini. Ada apakah gerangan?
Pucat wajah si Bunda melihat kejadian yang berada di kamar putranya. Si Kakak memegang gunting dengan tangan berlumuran darah. Sedangkan di atas kasur si Adek meronta ronta karena kemaluannya mengeluarkan banyak sekali darah. “Tadi adek nangis. Kakak suruh berhenti tidak mau. Kakak lalu ambil gunting dan memotong kemaluan adek”. Deg! Ucapan si Kakak polos, tanpa merasa bersalah karena hal itulah yang selama ini diucapkan oleh Bundanya. Seperti mengajarinya. Bundapun membentak si Kakak dan menangis dengan keras. Berlarilah keluar kamar si Kakak sambil membuang gunting yang dari tadi dipegangnya. Dia ketakutan.
Bunda segera meraih Adek yang berada di kasur. Niatnya cuma 1, segera dibawa ke Rumah Sakit agar mendapatkan pertolongan. Disambernya kunci mobil yang berada di atas meja. Bunda berlari ke garasi sambil menggendong Adek yang masih menangis dengan keras. Masuk ke dalam mobil dengan perasaan gugup dan kacau. Pintu garasi terbuka otomatis, lalu Bunda mengundurkan mobil. Maklum mobil dalam rumah itu selalu terparkir dengan bagian depan berada di dalam. Mobil di gas dengan kuat dan waktu yang bersamaan ada sesuatu yang terlindas ban mobil. Bunda kaget dan menghentikan mobil dengan cepat. Dari spion tampak darah mengalir di sekitar ban mobil bagian belakang. Ya Tuhan.... apa lagi ini. Bunda segera keluar dari mobil dan detik itu juga jantungnya hampir berhenti. Si Kakak terlindas kepalanya. Ternyata dia bersembunyi di garasi sambil berbaring, takut Bundanya marah dan memotong kelaminnya.
END.
Semoga ada hikmah yang diambil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar