Aku pernah berpikir ngapain si harus repot membuat surat tentang data diri kita terus memberikan data tersebut ke berbagai kantor dengan amplop yang rapi bahkan kadang-kadang wangi. Persiapannya sangat lama sekali. Mencari kelengkapan cv dengan membongkar data-data lama, ya sertifikatlah, ya ijazahlah, ya tetek bengeklah. Kalaupun telah selesai dengan aktivitas itu kita harus menunggu beberapa hari, beberapa minggu bahkan beberapa bulan untuk dipanggil ke instansi yang bersangkutan. Kadang-kadang kita harus repot karena panggilan tidak datang-datang dan kita berada dalam kebimbangan atau kita lebih repot jika ada panggilan yang berjumlah lebih dari satu dalam waktu yang bersamaan. Ini akibat kita mengirim lebih dari satu surat lamaran. Alamak… tidak dipanggil repot, dipanggil repot. Tetapi ada juga kok yang dipanggil tepat sesuai dengan keinginannya. Mungkin karena dia sudah pasrah dalam berdoa.
Ada fakta menarik yang bisa diambil. Sekarang tu ada dua kesulitan yang terjadi di dua elemen. Elemen perusahaan kesulitan mendapatkan para karyawan yang capable dengan pekerjaannya. Sering mereka mendapatkan karyawan yang harus belajar dan beradaptasi terlalu lama dengan pekerjaan baru yang digeluti. Hasilnya produksi dari usaha yang dia lakukan tidak berjalan dengan optimal dalam masa itu. Makanya mereka lebih cenderung menggunakan unsur nepotisme dalam mencari karyawan. Mereka langsung mencari orang yang kompeten di bidangnya dan menawari agar mau bekerja ditempatnya. Ini adalah langkah utama mereka, sedangkan langkah terakhir yang mereka tempuh adalah dengan meluangkan lowongan pekerjaan.
Elemen pelamar pekerjaan dari manapun statusnya menjadi elemen ke dua. Mereka mudah untuk mencari pekerjaan tetapi sulit untuk mendapatkan pekerjaan dan biasanya mereka menjadikan langkah melamar pekerjaan itu sebagai langkah awal. Dan... sangat bertolak belakang dengan perusahaan tempat mereka melamar.
Seandainya sudah menerima panggilan. Ah… tidak berhenti sampai di situ. Ada beberapa proses yang harus diikuti dan biasanya berupa tes. Entah itu tes secara kompetensi atau tes kepribadian. Setelah tespun ada yang harus meneteskan air mata karena tidak bisa melanjutkan kepada tahap selanjutnya. Biasanya sich hasil dari tes kurang dari standar. Yach... yang luluspun harus berjuang ditahap selanjutnya, bisa tes kesahatan, bisa tes wawancara, bisa juga langsung training untuk menjadi karyawan profesional. Dan... itu semua melelahkan. Perlu waktu berminggu-minggu bahkan ada yang berbulan-bulan. Untung jika pada proses ini sudah dapat dana reses, kalau belum? Alamak... tambah repot ae!
Alhamdulillah sudah diterima dan bisa bekerja lalu kita tidak menjadi pengangguran. Semestinya tidak berhenti sampai di sini saja. Kenapa? Waktu kita biasanya dari Senin sampai Jumat akan habis dengan rutinitas yang sama. Pekerjaan yang harus kita selesaikan setiap minggunya dari pagi sampai sore bahkan ada yang dari pagi sampai malam atau pagi lagi. Tergantung target dari hasil yang akan kita capai dan...itu menguras waktu kita. Waktu untuk menyenangkan pikiran, untuk bermain, untuk menambah ilmu, dan yang lainnya. Ini terjadi tanpa kita sadari. Ternyata... lama kita tidak menghubungi sahabat di masa kecil kita, lama kita tidak berkumpul di keluarga besar kita, dan lamaaaaa kita kehilangan momen yang berharga. Tidak semuanya sich... tapi berlaku bagi sebagian orang.
Kan masih ada hari Sabtu dan Minggu saat kita libur dari rutinitas pekerjaan kita? Kita bisa tamasya atau berkumpul dengan orang-orang yang kita tinggalkan. Tapi... apa benar begitu. Kadang kala hari libur kita habiskan untuk melepaskan lelah, sendirian. Karena beban fisik dan mental terlalu berat kita sandang dan akhirnya... kita ingin sendirian. Tidur... tidak ada yang mengganggu. Anehnya nich kita selalu langsung berpikir dengan rutinitas yang belum selesai atau target baru yang harus diselesaikan. Bisa jadi ini terjadi terus menerus meskipun kita sudah naik pangkat atau gaji bertambah. Beban pikiran kita semakin bertambah karena tanggung jawab kita juga semakin besar. Hhhhh....
Ah... yang pentingkan manajemen dan maintenance yang bagus aja untuk semua aktivitas yang kita lakukan. Bisa bagi waktu untuk pekerjaan dan untuk urusan diluar pekerjaan yang masih kita butuhkan. Begitu akan lebih bagus jika memang kita bisa mengoptimalkan waktu yang kita punyai. Tapi... sebagian dari kita ada yang belum bisa memaknainya seperti itu.
Lalu harus bagaimana?
Mencoba untuk menciptakan lapangan pekerjaan mandiri. Bekerja sesuai dengan kehendak hati. Target kita yang menentukan sendiri dan... tidak ada yang memarahi. Sangat menyenangkan bisa meluangkan waktu yang kita punyai untuk kegiatan yang kita sukai. Kapanpun! Dimanapun! Tidak harus terbelenggu waktu kerja yang padat. Agenda pekerjaan yang mendadak, dan... everythinglah!
Aku punya pikiran untuk memberdayakan pikiranku. Sangat besar kesempatan yang akan kita dapatkan seandainya kita menjual jasa kepada orang lain. Apalagi hal seperti ini belum begitu banyak saingan. Dan... menyenangkan. Waktu sisa yang akan kita punyai sangat banyak. Hhhh... kita akan menjadi orang yang bebas. Mau bekerja kapanpun bisa. Tapi... tetap berpenghasilan yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Bagaimana?
Semoga bisa menjadi RENUNGAN
2 minggu tok bekerja di Bank Swasta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar